Inilah 5 Perbedaan Saham dan Obligasi yang Harus Diketahui

perbedaan saham dan obligasi

Pasar modal memiliki beberapa instrumen investasi. Diantara jenis instrumen yang paling populer adalah saham dan obligasi. Dalam versi keuangan syariah, saham disebut saham syariah dan obligasi disebut sukuk. Inilah perbedaan saham dan obligasi yang harus kamu ketahui.

Pengertian Saham

perbedaan saham dan obligasi
Memahami pengertian dari saham

Sebelum membahas lebih jauh perbedaan saham dan obligasi, perlu dipahami apa itu saham. Baik saham syariah maupun konvensional secara prinsip memiliki pengertian yang sama. Saham adalah surat tanda bukti kepemilikan perusahaan. Jadi perusahaan yang listing atau terdaftar di pasar modal sebagai perusahaan terbuka menjual saham sebagai sumber modal.  

Sumber modal dari saham dapat digunakan perusahaan sebagai sumber dana pihak pertama. Karena kepemilikan modal statusnya sama seperti modal pendiri dan stake holder. Para pemilik saham diuntungkan dengan jual beli dan fluktuasi harga saham di pasar modal.

Pengertian Obligasi

perbedaan saham dan obligasi
Memahami pengertian dari obligasi

Kita tidak bisa membahas perbedaan saham dan obligasi sebelum memahami apa itu obligasi. Secara bahasa, obligate dapat berarti jaminan. Obligasi merupakan kupon yang dibuat oleh perusahaan penerbit. Kupon ini merupakan bukti perjanjian peminjaman dalam jangka waktu tertentu.

Besar pinjaman obligasi oleh perusahaan dapat berupa nominal yang didasarkan pada proyek tertentu. Atau bisa juga didasarkan pada kepentingan tertentu. Untuk obligasi syariah atau yang biasa disebut sukuk, biasanya didasarkan pada underlying asset tertentu sehingga jelas jangka waktunya.

Ada beberapa contoh obligasi yang bisa ditemui. Contoh obligasi atau sukuk yang laris di Indonesia adalah Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI). Sementara itu, dalam versi syariah disebut Surat Berharga Syariah Negara.

Perbedaan Saham dan Obligasi

perbedaan saham dan obligasi
Berbagai faktor yang membedakan saham dan juga obligasi

Perbedaan saham dan obligasi dapat dinilai dari banyak hal. Namun lima perbedaan berikut dapat menjadi penjelas tentang kedua produk investasi tersebut. Dengan memahami perbedaan keduanya, investasi kamu bisa jadi lebih optimal.

1. Penerbit

Perbedaan saham dan obligasi yang pertama adalah penerbit. Untuk saham yang bisa diperjualbelikan secara umum, hanya bisa diterbitkan oleh  perusahaan yang terdaftar di pasar modal. Sedangkan untuk saham tertutup, semua perusahaan tentu memilikinya.

Sedangkan obligasi bisa diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah. Namun, ada beberapa hal yang harus digaris bawahi. Perusahaan atau pemerintah bisa menerbitkan obligasi selama lembaga tersebut dianggap kredibel dan memegang kepercayaan publik, maka dapat menerbitkan obligasi atau sukuk.

2. Cara Transaksi

Cara transaksi menjadi poin penting dalam perbedaan saham dan obligasi. Jika saham bisa diperjualbelikan bebas setiap hari, tidak demikian dengan obligasi atau sukuk. Karena obligasi atau sukuk ditawarkan dalam masa tertentu dan memiliki jatuh tempo.

Maka kepemilikan saham dapat berpindah dengan bebas setiap hari. Namun tidak demikian dengan obligasi atau sukuk. Instrumen investasi ini hanya bisa diperjualbelikan ketika ada penawaran saja.

3. Likuiditas

Perbedaan ketiga adalah dari segi likuiditasnya. Membandingkan antara saham dan obligasi dari sisi likuiditas sama seperti membandingkan tabungan dengan deposito. Saham dinilai jauh lebih likuid jika dibandingkan dengan obligasi.

4. Tingkat Keuntungan

Dari sisi risiko keduanya memiliki tingkat risiko yang tinggi, sekaligus potensi keuntungan yang tinggi pula. Potensi keuntungan obligasi tentu lebih besar. Selain karena tingkat risiko yang lebih tinggi, keuntungan obligasi juga lebih pasti.

5. Masa Berlaku

Perbedaan terakhir adalah dari segi masa berlakunya. Saham dapat berlaku selama perusahaan penerbitnya eksis di pasar modal. Sedangkan obligasi memiliki masa berlaku terbatas yang tercantum dalam kupon. 

Dengan memahami perbedaan saham dan obligasi, kamu bisa lebih nyaman memilih instrumen investasi. Pastikan memilih instrumen yang sesuai dengan kemampuan finansial dan memiliki potensi keuntungan tinggi. Semoga informasi ini bermanfaat dan selamat berinvestasi! 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*